|
admin-alfaris
administrator
| Joined: 08 Feb 2007 |
| Posts: 119 |
| Location: Musholla Ad-Dien SMA Negeri 3 Medan |
|
Posted: Mon Mar 05, 2007 10:52 pm |
|
Kisah Keluarga Palestina Mencari Suaka di 3 Negara Arab
Infopalestina – Qatar: -Umar Eid Namr al-Haddad, begitu nama lengkap penduduk Palestina ini, pemegang dokumen keterangan paspor Palestina sedang mencari negara Arab yang mau menerimanya bersama keluarga yang dibawanya. Upaya ini ia lakukan setelah masa tinggal di Arab Saudi, hampir separuh hidupnya ia habiskan di negara petro dollar itu, dibatalkan oleh pemerintah setempat. Maka ia harus berpindah dari satu negara ke negara lain, dari satu airport ke airport lainnya demi mencari harapan baru. Hingga akhirnya, ia diterima oleh pemerintah Yaman demi karena alasan kemanusiaan semata, yang bisa jadi harapan ini tidak akan lama.
Kisah ini pernah diekspos oleh stasiun TV berbasis di Doha, Qatar, Aljazeera dalam acaranya yang berjudul “Ma wara al-akhbar (Dibalik Berita)”. Keluarga ini, menurut Aljazeera, selalu mengetuk pintu tiga ibukota negara Arab untuk bisa menerimanya, hingga akhirnya negara Yaman lah yang mau menerimanya. Kisah ini diawali ketika sang kafil (sponsor) Arab Saudi membatalkan untuk menjadi sponsor lagi bagi keluarga yang malang ini. Padahal kepala keluarga ini sudah beranak pinak dan menetap di Arab Saudi selama 47 tahun. Sampai pihak Organisasi Pertolongan Internasional di Sudan meminta agar negara-negara seperti Arab Saudi, Sudan, Yordania dan Yaman untuk segera mencarikan jalan keluar bagi penduduk Palestina, al-Haddad bersama keluarganya yang terdiri dari 11 anggota untuk bisa masuk ke negerinya masing-masing.
Al-Haddad, dilahirkan di Arab Saudi dan menetap disana selama 47 tahun lamanya. Ia bekerja di negara kaya minyak itu dengan membawa dokumen paspor Palestina. Setelah ia berkunjung dari saudaranya yang ada di Sudan, saat itu tanggal 22 Januari 2007 lalu, sang sponsor menolak memperpanjang tempat tinggal al-Haddad. Dan saat itu juga, ia bersama 11 anggota keluarganya harus bertolak balik ke Khortum, ibukota Sudan. Di Khortum, ia hanya menetap sampai 15 hari saja di hotel dan setelah itu pihak aparat kepolisian Sudan mengusirnya.
Saat ia singgah di Khortum, ia sempat mendapatkan visa masuk ke Yaman. Namun pihak Yaman sendiri akhirnya mendepaknya dari wilayah negaranya pada tanggal 6 Pebruari lalu. Setelah itu, ia bersama keluarganya hendak pergi ke Yordania yang juga sama memperlakukan keluarga malang ini. Dan tanpa basa-basi lagi, dengan pesawat yang ia tumpangi dari Yaman itu, pihak Yordania mengusir al-Haddad bersama keluarganya. Keluarga al-Hadda, dengan anggota paling tua berusia 20 tahun, harus menetap di lapangan udara San’a, Yaman selama 22 hari menunggu kejelasan statusnya. Setelah itu, pagi tanggal 28/2/2007 pihak berwenang Yaman menerbangkan kembali al-Haddad berikut keluarganya ke Khortum. Begitu tiba di Khortum, pihak Sudan menolak menerima kehadiran al-Haddad dan menyerahkan kembali ke San’a dengan pesawat yang sama. Hingga akhirnya, setelah berkoordinasi dengan pihak kedutaan besar Palestina di Yaman, aparat berwenang San’a mengizinkan al-Haddad bersama keluarganya tinggal di wilayahnya. (akhbaruna.com/AMRais) |